Hibah Buku Keluarga adalah Guru

Selasa, 25 Agustus 2020, Perpustakaan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta berkesempatan menerima kunjungan tamu penting. Beliau adalah orang yang sangat berkontribusi dalam menggerakkan literasi untuk negeri. Beliau yang pernah menjadi redaktur senior di Bernas, dan menjadi pembina berbagai media dan komunitas menulis di Yogyakarta. Sosok penting tersebut tak lain adalah Bapak YB Margantoro. Banyak hal menjadi bahan diskusi untuk meningkatkan literai bagi civitas akademika UNISA Yogyakarta.
Bertempat di Lantai 3 Gedung C Kampus Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Pak YB (panggilan untuk Bapak YB Margantoro) juga memberikan hibah buku berjudul “Keluarga adalah Guru” menjadi koleksi bagi Perpustakaan UNISA Yogyakarta. Hibah buku diterima langsung oleh Kepala Perpustakaan UNISA Yogyakarta, Ibu Irkhamiyati, M.IP., Buku tersebut sebagai salah satu hasil karya nyata dalam dunia penulisan. Harapannya, akan terbit berbagai karya-karya baru yang turut berkontribusi dalam menggerakkan literasi untuk negeri tercinta Indonesia ini.(Irkhamiyati, M.IP.)

SI ANAK PEMBERANI, PEMBELA KEBENARAN DAN KEADILAN

SI ANAK PEMBERANI, PEMBELA KEBENARAN DAN KEADILAN

 

Oleh: Irkhamiyati, M.IP*

Judul               : Si Anak Pemberani

Pengarang       : Tere Liye

Terbitan           : Jakarta: Republika Penerbit, 2018, 424 hlm.

Eliana, atau Kak Eli terlahir sebagai anak sulung. Itulah yang menjadikan dia tak lepas dengan kodratnya yang harus mampu menjadi anak yang kuat, yang mampu melindungi dan menjadi contoh bagi adik-adiknya. Suatu ketika hal tersebut seolah menjadi beban baginya. Suatu hari dia lengah dalam mengawasi adiknya, yang menyebabkan kaki adiknya terluka. Mamak tak menghiraukan ketika Eli pulang selepas menonton layar tancap, sebagai bentuk hukuman. Eli lantas kabur selama tiga hari ke rumah Wak Yati budhenya. Eli marah dengan mamak. Dia merasa diusir mamak dari rumah, karena malam hari pertama ketika dia kabur, menurut Wak Yati, mamak mengantarkan kebutuhan sekolah dan baju-baju pengganti. Bahkan ketika bertemu Amelia adiknya, saat mengaji di rumah Nek Kiba, Amel bercerita kalau mamak tak menanyakannya. Eli bertambah marah karena pada malam ke tiga dia kabur, yang menjemputnya pulang bapak, bukan mamak. Namun akhirnya setelah dia mendengar pembicaraan Wak Yati dengan seorang perempuan malam-malam, dia baru sadar bahwa selama ini meskipun Eli kabur, ternyata mamak selalu mengeceknya, membetulkan selimutnya, menciumnya, dsb. Eli pun akhirnya menyadari begitu besar cinta, kasih sayang, dan  pengorbanan mamak untuk dia dan adik-adiknya tanpa membedakannya.

Eli dan ketiga adiknya, yaitu Pukat, Burlian, dan Amelia sama-sama didik oleh bapak dan mamak dengan hidup yang sederhana, kerja keras, disiplin, dan penuh religi. Hal tersebut yang selalu dibekalkan kepada anak-anak Pak Syahdan dan Mak Nung yang akhirnya mengantarkan mereka menjadi orang sukses di kemudian hari. Selama ini Eli sudah terbiasa membantu pekerjaan orang tua. Kemampuan mamaknya yang multitasking juga menurun kepadanya, termasuk kebiasaan mengomel ketika adik-adiknya ketika mereka nakal, bahkan melebihi omelan mamak kepada anaknya.

Si sulung Eli meskipun seorang perempuan, namun punya keberanian yang luar biasa. Dia pun selalu rangking 1 di kelasnya sejak kelas satu sampai kelas lima. Di usinya yang masuk kelas 6 SD, keberaniannya semakin terlihat. Ia tidak pernah menangis untuk masalah yang sepele. Suatu ketika tak sengaja dia dan Amel menunggu ayahnya dan beberapa tokoh kampung yang sedang melakukan pertemuan dengan orang-orang penting di gedung kota. Mereka sedang membahas masalah penggalian pasir yang dilakukan di kampungnya. Eli mendengar seseorang telah mengatakan kalau bapaknya tak mampu membelikan baju baru untuk anak-anaknya, bisanya di loakan, dsb. Itulah saat pertama kali dia menangis. Dia merasa sakit hati oleh omongan Pak Johan. Dia adalah pengusaha pasir atau mantan mandor bapaknya ketika bekerja sebagai kuli bangunan saat membangun Bandara Palembang. Pak Johan mengatakan bahwa bapak adalah keluarga misikin. Spontan Eli berteriak keras di depan ruang pertemuan: “Jangan hina bapakku, walau kami hidup sederhana, sungguh keluarga kami tidak hina. Bapak kami tidak pernah mengambil yang bukan haknya, apalagi menghidangkan nafkah busuk ke meja makan. Hal itu membuat seisi ruangan terdiam, dan mengakhiri rapat yang belum juga menemukan kesepakatan. Penambang pasir tetap ngotot melakukan penambangan karena merasa sudah mengantongi ijin.  Sementara masyarakat yang diwakili bapak, kepala kampung, dll, tetap menolak kegiatan tersebut yang dinilai merusak alam dan menguntungkan pengusaha saja.

Sebagai anak yang pemberani, Eli tak kalah beraninya dengan kawan-kawan laki-laki di sekolah. Berbagai tantangan selalu dia terima yang diakhiri dengan kemenangan. Contohnya saat Anton menantangnya dalam berbagai lomba, termasuk mengumandangkan Adzan Magrib di masjid kampong mereka. Tak heran, setelah penduduk kampung mendengar suara anak perempuan adzan, semua berdatangan ke masjid. Pengadilan dimulai, yang diakhiri dengan pembelaan oleh Nek Kiba, guru ngaji di kampung. Suara adzan Eli setidaknya lebih kuat daripada suara adzannya laki-laki. Terbukti setelah Eli adzan, penduduk kampung berdatangan, entah hanya sekedar melihatnya, memarahinya, atau memang mau solat di masjid. Begitu juga yang sedang asyik nongkrong-nongkrong mereka bergegas ke masjid, tidak seperti biasanya .

Keberanian Eli melawan penambang pasir yang meresahkan penduduk kampung, menginspirasi dia dan 3 temannya membentuk Gank Buntal. Mereka mulai melakukan pengintaian ke tambang pasir dan menyusun strategi penyerangan untuk mengempesi ban. Aksi pengempesan ban gagal, yang menyebabkan dia bersama ganknya diselamatkan Marhotap (teman yang sebelumnya membuatnya kesal), dengan menyelam di Lubuk Larangan. Mulai saat itu Eli dan Marhotap berdamai, apalagi setelah Marhotap menceritakan rahasia tempat dia mencari batu alam yang bagus-bagus untuk dijadikan berbagai manik-manik dan aksesoris yang mahal harganya.

Sejak aktivitas pengerukan pasir, ladang jagung gagal panen, air sungai keruh sehingga tidak bisa untuk mandi, mencuci, dan sulit mencari ikan, termasuk keluarga Marhotap susah mencari bebatuan indah untuk souvenir. Begitu pula dengan petani yang mau menyeberang ke ladang seberang sungai tidak diijinkan melewati pos pengeruk pasir. Penduduk banyak dirugikan.

Suatu malam setelah selesai mengaji, Eli dipamiti Marhotap untuk melemparkan kantong balon yang berisi bensin ke truk pengeruk pasir. Misi Marhotap adalah meledakkan truk-truk itu sehingga penambang pasir akan meninggaplkan kampung mereka. Marhotap berhasil meledakkan beberapa truk, namun dia gagal menyelamatkan diri. Dia terkena tembakan, dan jasadnya tak ditemukan. Eli yang malam itu menyaksikan peristiwa nahas tersebut menceritakan ke bapaknya. Namun sampai proses penyelidikan berlangsung, Eli oleh polisi justru dikatakan kalau dia hanya berimajinasi saja. Pak Johan terlalu pintar dan berpengalaman dalam menyuap pejabat dan polisi, termasuk menghilangkan barang bukti. Semua truk yang terbakar telah disingkirkan, bahkwan ke mana mereka mengubur Marhotap tak seorang pun yang mengetahuinya.

Peristiwa di atas menambah amunisi keberanian Eli. Terlebih ketika dia tak sengaja mendengar pembicaraan anak buah Pak Johan. Mereka mengatakan bahwa baju berdarah dan batu manik-manik Marhotap mereka simpan di laci meja pos penjagaan pengerukan pasir dan tidak dikunci. Tanpa pikir panjang, Eli langsung menyusun strategi bersama Gank Bantalnya. Mereka ingin mengambil barang bukti tersebut. Sayang sekali, untung tidak berpihak di Gank Buntal, ternyata mereka masuk dalam jebakan yang sudah disusun Pak Johan. Omongan anak buah Pak Johan hanya untuk memancing Eli dan kawan-kawan datang. Setelah itu Pak Johan akan menawarkan negosiasi kepada penduduk. Dia akan menukar anak-anak itu dengan ijin penambangan penduduk. Sebenarnya beberapa hari sebelumnya Eli dan gangnya sudah berhasil mengumpulkan semua tanda tangan atau cap jempol semua penduduk atas penolakan penambangan pasir tersebut. Sayangnya hal itu dianggap tidak legal dan tidak fair oleh pejabat dan Pak Johan.

Malam itu Eli dan ganknya masuk perangkap Pak Johan. Mereka disekap dalam sebuah truk kontainer yang gelap dalam keadaan mulut tertutup. Berbagai usaha Eli dan ganknya dilakukan untuk melepaskan diri gagal. Kepasrahan akhirnya yang bisa dilakukan, hingga terdengar suara gemuruh. Ternyata hujan turun lebat yang menyebabkan banjir bandang dan meratakan pos penambangan pasir. Semua truk terbawa arus, termasuk kontainer tempat menyekap mereka.

Pagi hari setelah air surut penduduk membuka kontainer yang tersangkut di antara pohon-pohon di hutan dekat penambangan pasir. Eli dan kawan-kawan selamat. Jasad Marhotap yang dikuburkan di hutan larangan ditemukan. Kalung manik pemberian Marhotap yang kuminta untuk disimpannya juga ditemukan dalam sakunya. Itulah kenang-kenangan untuk Eli selamanya. Pak Johan tidak menambang pasir lagi di kampung mereka. Setidaknya usaha Eli untuk menyelamatkan alam sekitar dan hutan di wilayahnya sudah dilakukan, meskipun setelah Eli dewasa dan menjadi pengaca sukses serta pakar lingkungan alam, terdengar kabar kalau Pak Johan sudah mulai merencanakan penambangan batu bara lagi di kampung mereka. Eli siap berjuang melawan kebenaran dan keadilan, sesuai cita-citanya sejak kecil. Eli memang si Anak pemberani.

Setelah membaca novel ini, alur ceritanya saya rasakan sama dengan gaya penulisan dalam serial anak mamak di novel-novel sebelumnya. Penulis terkesan memutus satu kasus yang nantinya akan dimunculkan sebagai akhir cerita di bab terakhir, agar pembaca penasaran. Serial Si Anak Pemberani ini tetap menarik untuk dibaca sebagai motivasi bagi anak-anak Indonesia. Pesan kuat dalam novel ini yaitu bahwa masa anak-anak jangan hanya dihabiskan untuk bermain saja. Anak harus dididik dengan benar sejak kecil tanpa mengurangi kemerdekaan masa bermainnya, agar kelak menjadi orang yang sukses dan benar di masa depan.

  • Penulis adalah Kepala Perpustakaan UNISA Yogyakarta

 

 

 

BURLIAN SI ANAK SPESIAL

BURLIAN SI ANAK SPESIAL
Oleh: Irkhamiyati, M.IP*

Judul : Burlian
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Jakarta: Republika, 2009, 339 Hlm.

Seorang anak kelas 4 SD nun jauh di sebuah pelosok kampung di daerah Palembang bernama Burlian. Dia terlahir di Kampung Paduraksa, yang oleh mamak dan bapaknya diberi julukan kesayangan, “Si Anak Spesial”. Dia memang bandel dan kadang susah diatur. Di balik kenakalannya, dia sebenarnya adalah seorang anak yang pintar dengan rasa penasaran sangat tinggi, banyak bertanya, mau menurut perintah orang tua, dan rajin mengaji. Banyak kenakalan di usia anak-anak yang dia lakukan. Suatu hari dia mengajak kakaknya, Pukat “Si Anak Pintar” bolos sekolah untuk mencari belalang. Dalam bayangan mereka, jika belalang sudah terkumpul banyak, maka akan dijual di Pasar Kecamatan, yang akan menghasilkan banyak uang untuk ukuran anak-anak seusia mereka.
Kejadian bolos sekolah itu akhirnya diketahui oleh Mamak. Esok harinya, keduanya disuruh Mamak untuk tidak sekolah. Dalam benak mereka, Mamak tidak marah, nyatanya menyuruh mereka untuk membantu cari kayu bakar di hutan. Jalanan ke hutan licin dan naik turun. Mereka harus mencari kayu, kemudian memasukkannya ke keranjang sampai penuh, membawanya pulang, dan menatanya di luar rumah. Hal itu dilakukan berkali-kali, sampai saatnya istirahat siang. Mereka hanya diberi nasi bungkus, tanpa lauk dan sayur oleh mamak. Setetah itu mereka masih harus mengerjakan hal serupa sampai petang. Mamak tidak memberi toleransi bagi mereka untuk beristirahat, tanpa banyak cakap, harus dikerjakan cepat, sampai badan keduanya terasa remuk redam. Baraulah mereka sadar kalau itu adalah sebagai hukuman atas tindakan bolos sekolah untuk mencari belalang. Esok hari, meskipun badan masih terasa sakit, keduanya memilih beranjak dari tempat tidur dan segera mandi untuk berangkat ke sekolah, dari pada harus mencari kayu dari pagi sampai petang. Mereka akhirnya sadar, sekolah itu lebih menyenangkan, bisa bermain saat jam istirahat, bisa dapat tambahan ilmu dari Pak Bin, guru hebat mereka, bisa jajan ke warung Bu Ahmad, dsb.
Kenakalan lain yaitu ketika SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah), sejenis judi togel masuk kampung. Seoang pemuda kampung yang terganggu jiwanya, alias gila, bernama Samsurat, sejak ada SDSB sering meracau angka-angka yang anehnya sering keluar sebagai pemenang SDSB. Suatu ketika selepas Burlian pulang mengaji dari Nek Kiba, tiba-tiba Samsurat menunjuk-nunjuk ke Burlian, dan diakhiri dengan berbalik badan dan meraung sedih dan marah-marah. Orang-orang kampung mencoba menafsiran maksud Samsurat, tapi belum ketemu. Keesokan harinya, mulai dari Wak Lihan, dan banyak orang kampung yang menanyakan tanggal lahir Burlian yang akan dijadikan nomor taruhan dalam membeli SDSB. Teman-teman sekelas Burlian, seperti Can dan Mjnjib ikut menjadi Koran SDSB. Anak-anak kecil, pemuda, dan orang tua sebagai korbannya. Diam-diam, Burlian terpancing untuk ikut membelinya, meskipun sudah dibilangi oleh Wak Yati, Budhenya: “Jangan sekali-kali kau berjudi, dosa besar”.
Kali ini rasa penasaran Burlian tidak bisa dibendung , bahkan dia melakukan 2 dosa besar sekaligus. Pertama dia berani mencuri uang di kaleng Mamak, yang dia pikir Mamaknya tidak akan tahu. Kedua dia membeli SDSB. Pada saat pengumuman undian, angka yang keluar menyerupai tanggal lahir Burlian, hanya saja kebalikannya. Semua penduduk kampung yang memasang angka sesuai tanggal lahir Burlian kecewa. Anehnya, Burlian membeli dengan angka kebalikan itu. Dia bisa menangkap pesan Samsurat. Namun untung tidak berpihak padanya.
Saat itu juga Mamak yang tahu kalau Burlian ikut-ikutan beli SDSB sangat marah besar. Dia menyobek kertas SDSB Burlian di depan orang-orang yang berkumpul di Warung Wak Lihan yang dijadikan Psoko SDSB Kampung. Mamak sudah mengajak ibu-ibu lainnya, layaknya berdemonstrasi agar warung itu ditutup. Berkali-kali usaha itu sudah disampaikan, namun selalu gagal. Ketika judi sudah meracuni sampai ke anak-anak, ternyata belum cukup sebagai alasan bagi Dullah, kepala kampung untuk memutuskan tutup warung SDSB. Banyak alasan oleh mereka. Judi yang membuat bapak-bapak mengahabiskan uang jatah belanja, uang hasil menjual kopi dan karet, belum menyadarkan mereka untuk berpisah dengan SDSB. Hari itu 4 angka yang dibeli Burlian menang penuh. Bisa dibayangkan berapa juta rupiah seharusnyan uang yang akan didapatkan oleh Burlian, namunMamak tidak menyesal telah menyobek kertas SDSB itu. Mamak tidak akan mengijinkan sepeserpun uang haram ada di rumahnya dan meracuni anaknya. Burlian baru sadar akan pesan Samsurat, kenapa di akhir pesan dia meraung dan marah-marah. Ternyata setelah nomor SDSB menang total, Burlian lemas dan sedih karena gagal mendapatkan uang jutaan rupiah, akibat kertas sudah diseboek-sobek Mamak. Warung SDSB baru ditutup setelah adanya demo besar-besaran oleh mahasiswa di berbagai kota dan tuntutan agar pemerintah menghapus program judi yang berkedok bantuan sosial yang hanya memanjangkan angan masyarakat di orde lama itu.
Ada lagi kenakalan Burlian. Dia nekad bermain ke sungai larangan bersama Pukat dan Can, sepupunya. Niat awal mereka hanya untuk bermain senapan, sebab Burlian dan Pukat sama sekali tidak boleh mendekati, memegang bahkan menggunakan senapan angin di gudang belakang rumah mereka. Rasa penasaran itu membuat Burlian ingin bisa menggunakan senapan. Mereka bertiga ke kebun jagung, dilanjutkan berburu ikan. Setelah ikan hasil tembakan didapatkan, Burlian ingin segera mengambilnya, namun tak disangka ada sesuatu yang lebih cepat menyambarnya. Untung degan refleks tangan Burlian ditarik ke atas. Belum hilang rasa takut dan kaget mereka, tiba-tiba hewan itu mengejar. Berlarilah mereka sekuat tenaga. Dalam keadaan panik, kaki Burlian masuk terperosok dan sulit digerakkan. Pukat membantu sekuat tenaga menariknya, namun tidak berhasil.
Burlian menagis dan terus menarik kakinya, namun gagal. Dia menjerit-jerit sambil berteriak minta tolong. Ketiganya ketakutan, dan berteriak minta tolong. Dalam hitungan detik, terdengar suara “door” pertama, mata kanan buaya tertembak dan berdarah. Buaya marah dan kesakitan. Kemudian terdengar lagi suara “door”, membuat mata kiri buaya merah berdarah. Untuk yang ketiga terdengar lagi suara “door” buaya berbalik mencari sumber suara yang melukainya. Mereka betiga segera lari meningalkan sungai larangan. Hari itu menjadi hari yang tak terlupakan bagi mereka. Burlian beruntung bisa lepas dari serangan buaya berkat orang yang tepat menembak buaya dari seberang sungai. Mereka tidak mengira kalau sebenarnya orang yang tepat dan jitu menembak buaya itu adalah Bapak Burlian dan Pukat. Selama ini Bapak selalu bilang tidak bisa menggunakan senapan angin. Alasan bapak merahasiakan kepintarannya dalam menembak, selalu menjadi pertanyaan besar di benak Burlian.
Kenakalan lain Burlian terlihat ketika Mamak menunda membelikan sepeda sebagai hadiah bagi Burlian yang khatam mengaji di rumah Nek Kiba. Burlian jadi benci Mamak, Burlian menyangka Mamak ingkar janji. Burlian tidak mau mengerti bahwa uang yang seharusnya digunakan untuk beli sepeda itu, sementara digunakan untuk biaya sekolah Ayuk Eli dan membantu pengobatan anaknya Wak Lihan yang sedang sakit keras. Malam hari Burlian tidak mau makan dan tidur di luar rumah. Bapak mendekati Burlian. Setelah berbasa-basi ngomong ini itu, sampailah pada suatu cerita tentang seorang ibu yang dulu rela memasang tubuhnya demi melindungi anaknya dari sengat ribuan lebah. Ibu itu sampai sakit berbulan-bulan demi anaknya. Ketika Burlian bertanya: “Itu kejadiannay di mana Pak?” Bapak pun menjawab: “Di kebun kita, dan Kau tau siapa ibu dan anak itu Burlian?” Perlahan Burlian mengangguk. “Anak yang dlindungi itu adalah Kau, dan ibu itu adalah Mamakmu, Burlian”. Seketika air mata Burlian menetes di pipi. Dia baru menyadari kalau Mamak sangat sayang kepada anaknya. Kemudian Burlian masuk ke kamar Mamak dan memeluknya erat-erat. Dia tidak marah lagi akan sepeda baru yang gagal dibelikannya saat itu.
Ayuk Eli juga menceritakan pengorbanan lain oleh Mamak untuk Burlian. Mamak telah menggadaikan cincin pernikahannya untuk membelikan Burlian sepeda, meskipun cincin itu adalah harta yang paling berharga untuknya. Mendengar semua cerita itu, Burlian sadar betapa besarnya cinta Mamak. Bahkan apa saja akan dilakukan Mamak untuk anak-anaknya.
Di balik kenakalan Burlian, terlihat watak aslinya yang baik. Ada hikmah di balik peristwa robohnya gedung SD tempat Burlian bersekolah. Penduduk kampung yang sedang berkumpul untuk melakukan pemilihan kepala kampung yang baru, dikagetkan oleh suara robohnya SD. Mereka berlari menuju SD yang jaraknya tidak jauh. Dalam bayangan mereka adalah keselamatan anak-anak dan guru SD. Alhamdulialh, mereka sedang melakukan upacara bendera di hari Senin. Banyak anak yang selamat, namun si kembar Juni dan Juli yang tidak ikut upacara karena sedang nggak enak badan, menjadi korban dari musibah itu. Si Kembar meninggal di tempat. Beberapa siswa terluka kena lemparan batu bata, kayu, dan beberapa barang akibat gedung yang roboh. Burlian termasuk korban selamat dari kejadian itu meski harus di rawat inap beberapa hari.
Robohnya sekolah itu ramai diberitakan di stasiun televisi nasional, sampai-sampai para pejabat dari pusat mengunjungi sekolah dan korban yang masih sakit. Pada waktu kunjungan, pejabat itu bertanya kepada Burlian: “Apa keinginanmu setelah robohnya sekolah itu, sebutkan saja, nanti akan kami catat dan akan kami wujudkan”. Burlian dengan lugunya menjawab: “ Aku ingin sekolah dibangun yang bagus, ada perpustakannya yang bukunya bagus dan lengkap, dilengkapi alat sekolah seperti papan tulis yang layak, dsb”. “OK, kami catat”, Jawab pejabat itu. “Masih ada lagi Pak”, kata Burlian. “Lho kamu udah menyebutkan banyak tadi” Kata pejabat itu. “Baiklah satu lagi saja permintaanmu, sebutkan” Lanjut pejabat itu. “Aku ingin Pak Bin diangkat jadi guru PNS Pak, sebab jasa Pak Bin sangat besar bagi sekolah kami, pengabdiannya juga sudah sangat lama” “Wah pintar sekali kamu Burlian”, Kata pejabat itu. Ternyata pejabat itu adalah Pak Menteri Pendidikan.
Keingin Burlian tak lama setelah peristiwa itu dapat terealisasikan yang juga terbantu dengan Program ABRI Masuk Desa/AMD. ABRI membantu membangun sekolah, masjid kampung, dan belasan kamar mandi umum. Program perkemahan juga dilaksanakan saat ada AMD. Pada hari terakhir AMD, mereka mengadakan lomba lari. Dengan segala upaya Burlian, Can, dan Munjib ingin memenangkan lomba lari. Berkat ketelodoran mereka tersesat di hutan H-1 lomba lari, membuat mereka punya ide untuk melewati jalan pintas di hutan, sehingga mereka bisa menang dalam lomba lari. Can yang bercita-cita sebagai tentara tercatat sebagai juara 1. Munjib yang ingin melanjutkan sekolah ke SMP, sebagai juara 2, sehingga uangnya bisa sebagai tambahan biaya sekolah nantinya. Burlian sengaja mengalah dari 2 temannya, demi mewujudkan keinginan kedua temannya.
Burlian memang istimewa di banding dengan lainnya. Dia sopan dan mudah bergaul dengan orang lain, termasuk dengan orang asing dari Jepang, yaitu Nakamura. Rasa ingin tahunya yang besar membuatnya menjadi sahabat bagi orang dewasa yang bertugas sebagai pimpinan dalam proyek pembangunan jalan tol di Pulau Sumatra. Berkat kedekatan Burlian dengan Nakamura, mengantarkannya menjadi sahabat pena bagi anak Nakamura, Keiko yang ada di Jepang sana. Banyak lagi cerita keistimewaan Burlian yang sangat menarik, disajikan dalam novel ini.
Janji Pak Menteri ditepatinya, karena disaksikan para wartawan saat itu dengan siaran televisi. Sekolah jadi bagus, dan Pak Bin diangkat menjadi PNS. Hal itu menambah semangat Pak Bin dan anak-anak dalam menjalankan ujian kelulusan. Semua siswa kelas enam lulus, yang berjumlah 13 orang. Semua mendapat nilai bagus. Pak Bin juga mendapat penghargaan dari dinas pendidikan. Kabar baik lainnya yaitu Burlian bisa mewujudkan impiannya bersekolah SMP tidak hanya di SMP Kota Kabupaten yang terdekat dengan rumahnya. Dia akan bersekolah di SMP yang perpustakaanya bagus, sehingga kata Pak Bin, bisa membuat rasa haus Burlian untuk membaca bisa terobati. Nakamura, Insinyur dari Jepang menawakan Burlian sekolah SMP, SMA, dan kuliah di Jakarta. Itulah jembatan yang akan membawa Burlian sampai ke Jepang, dan kembali menjadi orang yang sukses, sehingga membuat bangga dan senang orang tua dan orang-orang di kampungnya.
Novel ini ditulis oleh pengarang yang mampu menggambarkan setiap petualangan Burlian dengan sangat bagus, sehingga pembaca seakan terbawa ke alam yang diceritakan tersebut. Keistimewaan Burlian patut menjadi gambaran bagi anak-anak seusianya. Kenakalan yang masih wajar, namun lebih dominan sikap baiknya yang selalu dibimbing oleh orang tua. Pengarang menyampaikan cara orang tua dalam menghukum anak, tidak perlu dengan kekerasan fisik seperti dipukul, dan memarahi habis-habisan, namun cukup dengan tindakan nyata yang bermanfaat sehingga mampu menyadarkan mereka. Novel ini layak dibaca, sangat menginspirasi tentang semangat tinggi anak-anak kampung dalam meraih cita-citanya untuk merubah nasib, yang dibekali dengan sikap arif bijaksana warisan leluhur, dan bekal agama yang kuat untuk masa depan mereka. Ada sedikit catatan ketika membaca novel ini kadang terasa sulit membayangkan alam dan kondisi riil yang ada dalam novel, karena hal itu jauh dari kehidupan yang saya alami. Pembaca harus berimajinasi untuk memahami ilustrasi yang unik dalm novel ini.

• Penulis adalah Kepala Perpustakaan UNISA Yogyakarta

PUKAT BUKAN HANYA SI ANAK PINTAR, TAPI GENIUS

PUKAT BUKAN HANYA SI ANAK PINTAR, TAPI GENIUS

Judul : Si Anak Pintar
Pengarang : Tere Liye
Terbitan : Jakarta: Republik Penerbit, 2018, 349 hlm, 21 cm.
Oleh : Irkhamiyati, M.IP.*

Dia namanya Pukat, murid kelas 5 SD, anak ke dua pak Syahdan, seorang pensiunan pekerja kereta api yang tinggal di pelosok kampung di daerah Palembang. Meskipun menjadi si anak kampung yang serba kekurangan, tidak menjadikannya menjadi anak yang malas dan bodoh. Listrik yang belum masuk kampungnya, bukan hambatan untuk mengaji dan belajar di malam hari. Begitu pula dengan sederhananya baju seragam dan sepatu bukan hambatan untuk bersekolah. Anak ke dua dari empat bersaudara ini tumbuh dan berkembang dari keluarga sederhana namun hidupnya sungguh penuh warna.
Suatu hari Pukat dan adik lelakinya yang bernama Burlian diajak ayah mereka ke Kota Palembang. Tujuannya untuk menjenguk teman lama ayahnya yang bernama Koh Acan. Burlian berbeda dengan si Pukat kakaknya. Selama dalam perjalanan, Burlian lebih banyak bertanya, seperti sikap kesehariannya, sedangkan si Pukat lebih bisa berfikir sebelum menanyakan sesuatu. Dalam berbagai keadaan, si Pukat juga biasa bertindak lebih pintar dari teman-teman dan saudaranya. Perjalanan naik kereta itu merupakan pengalaman pertama bagi mereka. Kesempatan itu sungguh sangat langka dan berharga bagi mereka. Meskipun suara klakson kereta api sering mereka dengar, meskipun jalannya kereta api sering mereka lihat di rel ketera yang melintasi ujung desanya, namun naik kereta api sungguh merupakan hal yang mereka nantikan selama ini.
Inilah pengalaman pertama naik kereta api yang sangat menegangkan bagi Burlian dan Pukat. Tiket kereta Burlian hilang. Burlian memang keras kepala, sebelum mereka menaiki kereta, dia bersikeras mau menyimpan tiket itu sendiri. Angan-angannya sederhana, yaitu sebagai pengalaman pertama, ketika dicek oleh kondektur, dia akan menunjukkan tiketnya langsung, lalu tiketnya dilubangi. Tapiapa yang diangankannya sejak lama, tidak menjadi kenyataan. Pukat dan Burlian teringat omongan bapak sejak duduk di kereta, bahwa yang ketahuan tidak membawa tiket, maka akan diturunkan dari kereta. Karena Pukat dan Burlian ketakutan hal itu akan menimpa Burlian, maka sebelum lima langkah lagi kondektur sampai di kursi Burlian. Pukat: “Ayo cari lagi tiketnya”. Burlian tanpa disuruh langsung melepas baju dan celananya. Dia mengibas-ngibaskannya, dengan harapan tiket terjatuh di kakinya. Namun sampai kondektur yang berkumis tebal dan berbadan besar sudah di depannya, karcis itu tak ditemukannya. Apa yang dia lihat sungguh berbeda. Sang kondektur berteriak keras: “Hai Pak Syahdan, apa kabarnya, lama kita nggak ketemu ya Pak”. Bapak masih ragu sambil terus menatap si kondektur itu. Tak berapa lama kondektur menyambung “Ini aku Sipahutar Pak”. Bapak pun segera menjabat dan memeluk sahabat lamanya itu. Ternyata bapak dan si kondektur pernah sama-sama bekerja sebagai penjaga tungku lokomotif.Setelah berbincang-bincang cukup lama, si kondektur pergi meninggalkan kami, tanpa mengecek tiket kereta kami. Bayangan si Pukat bahwa kondektur akan melobangi tiket mereka berlalu sudah. Bapak bilang :”Ini hari istimewa bagi kau Burlian, karena tanpa tiket kereta kau tidak diturunkan di jalan”. Burlian lega, begitu pula dengan si Pukat sangat plong karena tidak jadi kehilangan adiknya.
Beberapa menit setalah mereka lega akan peristiwa pengecekan tiket, suatu hal yang membuat Burlian dan Pukat penasaran akan terjawab. Sebuah terowongan panjang yang akan dilalui kereta api. Banyak cerita seram yang sering mereka dengar akan kisah terowongan itu. Maka ketika kereta mulai memasuki terowongan, tangan Burlian memegang erat baju bapak. Pukat pun tampak takut, mereka memejamkan mata. Bapak mulai menggoda mereka. “Katanya kalian penasaran, kenapa malah tidur, dengan kalian memejamkan mata, sama saja kalian tidur di rumah” “Ayo buka mata kalian, perintah bapak”. Pelan-pelan mereka mulai berani membuka mata, melihat ke kanan kiri ke luar kereta. Pemandangan yang sangat berbeda. Gelap gulita, bahkan untuk melihat batang hidung sendiri saja tidak bisa. Suara kelelawar yang ada dalam imajinasi mereka juga tidak terdengar.
Tak berapa lama terdengar suara klakson kereta sangat keras, dan kereta mengerem mendadak, sehingga banyak penumpang yang terjatuh dan barang-barang banyak yang berjatuhan dan berserakan ke depan. Belum hilang rasa kaget mereka, tiba-tiba terlihat cahaya senter dari arah lain dan terdengar suara keras: “Bapak, Ibu, Saudara, mohon kerja samanya, Serahkan harta, emas, uang, jam, dan sebagainya, tolong masukkan ke dalam karung goni yang akan lewat di depan Saudara semua”. Belum hilang rasa penasaran mereka, terdengar lagi suara selanjutnya: “Kami tidak akan kasar jika kalian tidak melawan, maka ayo cepat masukkan barang berharga kalian ke karung goni, tapi ingat bagi siapa yang berani melawan, maka tak segan akan kami tembak, dan kami lempar ke luar, sehingga kalian bisa mati di terowongan panjang”, bentak suara dalam kegelapan itu. Burlian dan Pukat ketakutan.
Mereka menduga ada hal yang tidak beres. Bapak berbisik “Ini perampokan, mereka pintar merampok saat kereta melintasi terowongan”. Kita tidak bisa saling melihat wajah entah itu perampok, penunmpang, atau petugas kereta”, sambung bapak lagi. Tak berapa lama, terdengar suara ibu-ibu menangis karena mempertahankan kalung di lehernya yang akhirnya terpaksa diambil paksa masuk ke karung goni. Beberapa menit kemudia, terdengar suara letusan senapan api, ternyata ada penumpang yang ditembak karena melawan, dan suara tendangan ke luar kereta terdengar sangat jelas. Perampok sangat sadis, tega mendorong penumpang yang berani melawan ke luar dan jatuh di terowongan panjang. Jantung Pukat dan Burlian berdegub kencang, apalagi karena cahaya senter perampok bergantian menyinari wajah bapak, Burlian, Pukat, dan penumpang di sebelah Pukat. Pada saat giliran karung goni sudah mendekat di depan mereka, maka bapak pun terpaksa melepas jam tangan, memasukkan dompet yang berisi uang ke karung besar. Beberapa menit setelah itu, kereta berjalan seakan tanpa kendali. Semua orang dalam gerbong gaduh. Mereka tidak bisa melihat wajah perampoknya karena gelap dalam terowongan panjang.
Setelah kereta keluar dari terowongan, para penumpang saling bertanya, siapa perampoknya. Namun tak ada satupun yang dapat mengetahuinya. Mereka saling curiga. Bahkan bapak karena berusaha menenangkan penumpang lainnya, malah dituduh sebagai perampoknya. Dalam situasi gaduh dan laju kereta yang semakin cepat, bapak menyuruh Pukat dan Burlian untuk berlari mengikutinya. Mereka bergerak cepat terus maju dari satu gerbong ke gerbong lainnya. Setelah melewati beberapa gerbong sambil melompat dan terus berlari, sampailah mereka di lokomotif. Tak disangka di sana dilihatnya masinis tergolek jatuh. Ada juga Sipahutar, si kondektor yang berdarah di pelipisnya. Ternyata kawanan perampok sebelumnya beradu jotos dengan mereka. Bapak langsung mengambil tuas untuk mengendalikan laju kereta dengan sekuat tenaga. Setelah berapa detik kemudian, laju kereta berjalan miring 30 derajat. Bayangan jelek mereka yaitu kereta akan oleng dan gerbong akan jatuh ke samping rel. Bisa dibayangkan andai hal itu terjadi, maka berapa ratus penumpang akan jadi korbannya. Namun tak berapa lama, untung kereta bisa berjalan normal.
Selanjutnya bapak berkata kepada Sipahutar bahwa mereka harus segera berlomba dengan kawanan perampok, sehingga dalam waktu 30 menit kereta harus sudah sampai di Stasiun Kota tujuan. Bapak menyuruh Sipahutar untuk menghubungi petugas stasiun bahwa telah terjadi perampokan, namun bingung bagaimana caranya. Ada akal, ketika kereta seharusnya berhenti di stasiun sebelumnya, bapak yang memegang kendali kereta, tidak menghentikannya di sana. Ketika kereta melewati stasiun kecil itu, Sipahutar diminta bapak untuk melemparkan barang keras yang sudah dibungkus kertas, yang isinya menyampaikan tentang perampokan, dan upaya menangkap perampok begitu kereta sampai di stasiun kota. Sebelumnya mereka berdiskusi bagaimana cara mengenali perampoknya, karena sulit mencari buktinya. Sangat sulit mengecek hampir 600 penumpang, dan akan memakan waktu lama untuk mengetahui perampoknya. Pukat melontarkan ide cemerlang: “Nanti dicek saja siapa yang ada aroma kopi menyengat di celana dan sepatunya”. Bapak bertanya lagi: “Kenapa begitu Pukat?”. Pukatpun menjawab: “karena aku tadi sempat menumpahkan kopi bubuk (yang sedianya mau diserahkan ke Koh Acan) ke sepatu dan celana perampok, saat bapak memasukkan dompet dan jam ke karung goni mereka”. Pukat memperlihatkan sebagian aroma bubuk kopi yang masih ada di tangannya”. Ide Pukat itulah yang membantu para tentara menangkap 2 perampok saat keluar dari peron stasiun kota. Tak berselang lama, 8 kawanan lainnya dapat ditangkap setelah berusaha kabur. Dan ada satu petugas stasiun di bagian peron yang ikut ditangkap. Ternyata barang hasil rampokan djatuhkan di peron stasiun kota. Perampok dengan petugas bagian peron tersebuttelah bekerja sama, dengan niatan menyembunyikan barang rampokan agar tidak dapat diketahui orang lain. Setelah penangkapan kawanan perampok itu selesai, komandan tentara dengan ramah menemui mereka sambil mengatakan : “Pukat, kau bukan hanya Si Anak Pintar, tapi kau Si Anak Genius”. Pukat tersipu malu mendengarnya. Berkat kepintaran Pukat, semua barang rampokan bisa diambil kembali oleh penunmpang kereta. Kisah perampokan di terowongan panjang menambah kisah seram akan misteri terowongan bagi penduduk sekitar. Setelah mengalami sendiri kejadian di terowongan, bagi Burlian dan Pukat, cerita seram terowongan panjang sama halnya degan tidur di kamarnya yang gelap di malam hari karena belum ada listrik yang menerangi desanya. Misteri terowongan menjadi cerita biasa bagi meraka, meski terkadang masih terasa menyeramkan juga.
Kisah perampokan di kereta merupakan salah satu bukti kepintaran Pukat si anak desa. Masih banyak kisah yang diceritakan di buku yang berjudul Si Anak Pintar ini. Pukat pintar di keluarga mereka. Pukat juga pintar dibandingkan dengan teman-teman sebanyanya. Salah satunya yang mengisahkan kepintaran Pukat untuk membantu Bu Ahmad berjualan dengan membuka sebuah warung yang pernah terkenal dengan istilah warung kejujuran. Pukat yang melontarkan ide, sehingga bisa mengatasi ketika ada masalah dengan warung kejujuran tersebut. Ada lagi kisah kepandaian Pukat untuk berusaha membantu menyelamatkan Raju sahabatnya agar selamat dari banjir yang siap merenggut nyawanya. Belum lagi kisah tentang teka teki Wak Yati (Budhe Pukat) yang fasih berbahasa Belanda dan Inggris yang dituakan di desanya karena kepintarannya.
Berbagai kisah kepintaran Pukat sangat menarik dituliskan dalam buku ini. Kejujuran, kesederhanaan, kedisiplinan, kemauan untuk bekerja keras, kerelaan hati untuk mengaji dan membantu orang tua, mengantarkannya menjadi orang yang kelak berhasil sampai di Amsterdam. Hinga suatu ketika dia ingat pesan WAk Yati. Apabila Pukat sudah tahu jawaban teka-teki yang ditanyakan oleh Wak yati, maka bersegeralah untuk menjawabnya dengan keras, meski itu di pusarannya Wak Yati. Pertanyaan teka teki itu adalah: “Apakah harta paling berharga di kampung kita”?. Bukan 4 kotak yang berisi harta warisan penjajah Belanda yang ditemukan di masjid kampong jawabannya. Empat belas tahun setelah Pukat nun jauh di belahan negara lain baru menyadari dan mengetahui apa jawabannya. Jawabanya adalah mereka anak-anak kampung yang dibesarkan dengan didikan agama, semangat kerja keras, suka membantu, jujur, kesederhanaan, dan dibesarkan oleh kebijakan alam, sebagai harta paling berharga. Merekalah sebagai generasi penerus agar hutan dan tanah mereka tetap lestari dengan kejujuran, harga diri, perangai elok, serta sikap baik di manapun mereka berada.
Hari itu juga Pukat langsung memesan tiket Amsterdam-Jakarta-Palembang. Setibanya di bandara, ada pemandangan yang mengejutkan. Orang yang menjemputnya tak lain adalah Raju teman kecilnya yang didampingi perempuan cantik yang telah menjadi istrinya. Tak lain dia adalah Salekha, gadis cantik putri Bu Bidan, yang pernah menjadi cinta monyet Raju sejak SD. Raju yang pekerja keras sejak kecil, mampu mewujudkan cita-citanya menjadi seorang penerbang Angkatan Udara. Pukat si Anak pintar mampu menjadi harta paling berharga di kampungnya bersama teman-teman lainnya.
Buku ini pantas dibaca oleh siapa saja. Penuh dengan tauladan di dalamnya. Campur aduk rasa penasaran, tegang, seram, lucu, tertawa, bahagia, ada dalam buku ini. Orang tua yang pernah membacanya, pantas menceritakan kembali isi buku ini kepada anak sebagai salah satu contoh nyata akan kepintaran, ketekunan, dan kepatuhan anak bangsa.
• Penulis adalah Kepala Perpustakaan UNISA Yogyakarta